Categories

Tampilkan postingan dengan label Jihad dan Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jihad dan Dakwah. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2015

Jihadun Nafs


Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Kalian sekarang berada pada zaman yang kebenaran menuntun hawa nafsu. Akan datang nanti sebuah masa ketika hawa nafsu yang justru menuntun kebenaran. Kita berlindung kepada Allah dari zaman tersebut.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)

Mengendalikan jiwa adalah sifat orang yang cerdas. Ibnu Jauzi Rahimahullah mengatakan, “Orang yang cerdas akan menahan jiwanya dari sebuah kenikmatan yang menyisakan kepedihan dan syahwat yang mewariskan penyesalan. Cukuplah ukuran ini sebagai pujian bagi kecerdasan dan celaan bagi hawa nafsu.” (Dzammul Hawa)

Ibnu Qoyyim Rahimahullah menerangkan bahwa jihadun-nafs melalui empat tingkatan:
1.       Memacu jiwa untuk mempelajari petunjuk dan agama yang benar, yang tiada keberuntungan bagi jiwa dan tiada kebahagiaan baginya, baik dalam kehidupan duniamaupun kehidupan akhirat selain dengannya. Apabila jiwa tersebut terlewatkan darinya, ia akan sengsara di dunia dan akhirat.
2.       Memacu jiwa untuk mengamalkan petunjuk tersebut setelah mengetahuinya. Apabila tidak demikian, sekadar ilmu tanpa amal, kalau tidak mencelakakannya, tentu tidak memberinya manfaat.
3.       Memacu jiwa untuk mendakwahkan dan mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya. Apabila tidak demikian, ia tergolong orang yang menyembunyikan petunjuk dan keterangan yang diturunkan oleh Allah. Ilmunya tidak memberinya manfaat dan tidak menyelamatkannya dari siksa Allah.
4.       Mengusahakan jiwa untuk bersabar terhadap kesulitan-kesulitan dalam berdakwah dan dalam menghadapi gangguan makhluk serta menanggung beban itu semua karena Allah. 

Apabila seseorang menyempurnakan empat tingkatan ini, ia akan menjadi golongan rabbani, karena sesungguhnya para salaf (para pendahulu) bersepakat bahwa seorang alim tidak berhak untuk disebut rabbani hingga dia mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Barang siapa mengetahui dan mengamalkannya, dia akan disebut sebagai orang besar di kerajaan langit. (Zadul Ma’ad, 3/9)

Rabu, 19 Februari 2014

Semoga Kita Termasuk dalam Hamba-Nya yang Sedikit, aamiin

Jika kamu menasehati seseorang untuk meninggalkan maksiat, ia akan mengatakan: "KEBANYAKAN orang melakukan itu… aku tidak sendirian".

Padahal jika kamu mengamati kata-kata "Kebanyakan Manusia" dalam Alqur'an, pasti kamu akan dapati kata-kata setelahnya: "Tidak Tahu", "Tidak Bersyukur", "Tidak Beriman".

Jika kamu mengamati kata-kata "Kebanyakan Mereka" dalam Alqur'an, pasti kamu akan dapati kata-kata setelahnya: "Pelaku Kefasikan", "Tidak Mengerti", "Berpaling", "Tidak Memahami", "Tidak Mendengar".

Maka jadilah kamu golongan minoritas, yang Allah katakan dalam firman-Nya (yang artinya):

"SEDIKIT dari hambaku yang banyak bersyukur" (Surat Saba': 13).

"Tidaklah beriman bersamanya, kecuali SEDIKIT saja" (Surat Hud: 40).

"Sungguh banyak dari orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh, tapi mereka itu SEDIKIT" (Surat Shod: 24)

======

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

"Berjalanlah di atas kebenaran... jangan takut dengan sedikitnya orang yg menjalaninya. Dan jauhilah jalan kebatilan... jangan teperdaya dengan banyaknya orang yg binasa!".

Oleh: Ustadz Ad Dariny

Sumber: Muslim.Or.Id

Minggu, 16 Februari 2014

Diantara Nasehat Ali bin Hasan As Sulami

Abu Nu'aim meriwayatkan dalam kitab Hilyatul Aulia (7/82-85) Dari jalan Sufyan Ats Tsauri rahimahullah bahwa Ali bin Al Hasan As Sulami berwasiat:

"Hendaklah kamu jujur di setiap keadaan..

Jauhilah dusta, khianat dan jangan bermajelis dengan pelakunya..
Karena itu semua adalah dosa..

Jauhilah oleh kamu Riya dalam perkataan dan perbuatan..
Karena ia adalah kesyirikan..

Jauhilah rasa ujub..
Karena amal shalih yang disertai ujub tidak akan diangkat..

Ambillah agamamu dari orang yang memperhatikan agamanya..
Karena perumpamaannya seperti tabib yang tidak mampu mengobati dirinya..
Bagaimana ia akan mampu mengobati manusia..

Saudaraku..
Agamamu adalah darah dan dagingmu..
Tangisilah dosa-dosa dirimu dan sayangilah ia..

Bila kamu tidak menangisi dirimu..
Kamu tidak akan disayangi olehNya..
Ambillah teman yang membuatmu zuhud dalam kehidupan dunia..
Dan memberimu motivasi kepada akhirat..

Jauhilah olehmu ahli dunia yang pembicaraannya sebatas dunia..
Karena mereka akan merusak agama dan hatimu..

Mintalah keselamatan kepada Allah untuk umurmu yang tersisa..

Saudaraku..
Hendaklah kamu memperhatikan adab dan akhlak yang baik..
Jangan selisihi al jama'ah (Rasulullah dan shahabatnya)..
Karena kebaikan ada padanya..

Oleh: Ustadz Badrusalam

Rabu, 12 Februari 2014

DAKWAH

Kehidupan bagaikan roda
Beribu zaman terus berputar
Namun satu tak akan pudar
Cahaya Allah tetap membahana

Majulah sahabat mulia
Berpisah bukan akhir segalanya
Lepas jiwa terbang mengangkasa
Cita kita tetap satu jua
Cita kita tetap satu jua

Walau raga meregang nyawa
Harta dunia tiada tersisa
Namun jiwa tetaplah satria
Takkan surut satu langkah jua

Debu - debu dan darah suci
Saksi nan tak terbantahkan lagi
Gunung lembah hutan dan samudra
Untuk Allah diatas segalanya

Tujuh awan bersuka ria
Sambut ruh suci menuju Rabbnya
Sahabat nantikan hadir kami
Kan menyusulmu sekejap lagi

Bidadari nan bermata jeli
Menyongsong dengan wajah berseri
Sahabat kami rela kau pergi
Jihad kita kan terus bersemi
Jalan ini takkan pernah henti
*Untukmu Syuhada

Pages - Menu